7 Cara Menyusun Key Performance Indicator yang Selaras dengan Target Bisnis
Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, perusahaan membutuhkan cara yang jelas untuk memastikan setiap aktivitas dan pekerjaan karyawan bergerak menuju tujuan yang sama. Target penjualan, pertumbuhan pelanggan, efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, hingga kualitas layanan tidak akan optimal jika setiap departemen memiliki prioritas yang berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, perusahaan membutuhkan sistem pengukuran kinerja yang mampu menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan sasaran bisnis.
Key Performance Indicator (KPI) menjadi salah satu instrumen penting dalam proses tersebut. KPI membantu perusahaan mengukur pencapaian berdasarkan indikator yang dianggap penting bagi keberhasilan organisasi. Namun, perusahaan tidak cukup hanya membuat KPI yang mudah diukur. KPI perlu memiliki hubungan yang jelas dengan target bisnis agar pengukuran kinerja benar-benar membantu perusahaan menjalankan strategi.
Kaplan dan Norton menjelaskan bahwa ukuran kinerja seharusnya diturunkan dari strategi organisasi, bukan sekadar menjadi kumpulan indikator keuangan dan nonkeuangan yang berdiri sendiri. Hubungan antara tujuan dan ukuran kinerja juga perlu menunjukkan bagaimana pencapaian pada satu area dapat mendukung hasil pada area lainnya.
Dalam praktiknya, perusahaan dapat menyusun KPI dengan pendekatan yang sistematis, mulai dari memahami target bisnis, menentukan prioritas, menurunkan sasaran ke departemen, hingga menetapkan indikator dan target yang dapat dipantau secara berkala.
Artikel ini membahas 7 cara menyusun Key Performance Indicator yang selaras dengan target bisnis, sehingga KPI tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga membantu perusahaan mengarahkan kinerja menuju tujuan strategis.

Apa Itu Key Performance Indicator?
Key Performance Indicator atau KPI adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kemajuan atau pencapaian terhadap tujuan tertentu. Perusahaan dapat menggunakan KPI pada tingkat organisasi, departemen, tim, maupun individu sesuai dengan kebutuhan pengelolaan kinerja.
Contohnya, perusahaan yang memiliki target meningkatkan pendapatan dapat menggunakan pertumbuhan penjualan, margin, atau revenue per customer sebagai indikator tertentu. Departemen customer service dapat menggunakan tingkat penyelesaian keluhan, waktu respons, atau kepuasan pelanggan. Sementara itu, departemen warehouse dapat menggunakan akurasi stok, tingkat kesalahan pengiriman, atau waktu pemrosesan pesanan.
KPI yang baik tidak hanya menunjukkan angka pencapaian. KPI juga membantu perusahaan memahami apakah strategi berjalan sesuai arah yang telah ditentukan. Balanced Scorecard Institute menjelaskan bahwa KPI dapat digunakan untuk memantau kemajuan menuju hasil yang diinginkan serta melihat kesenjangan antara kinerja aktual dan target.
Karena itu, perusahaan perlu membedakan antara indikator yang sekadar mengukur aktivitas dan indikator yang benar-benar menggambarkan pencapaian tujuan bisnis.
Mengapa KPI Harus Selaras dengan Target Bisnis?
KPI yang tidak selaras dengan target bisnis dapat membuat karyawan bekerja keras pada hal yang sebenarnya tidak menjadi prioritas perusahaan. Misalnya, perusahaan ingin meningkatkan retensi pelanggan, tetapi KPI tim hanya berfokus pada jumlah pelanggan baru. Tim mungkin berhasil mendatangkan banyak pelanggan, tetapi perusahaan belum tentu berhasil mempertahankan pelanggan yang sudah ada.
Masalah lain dapat muncul ketika departemen memiliki KPI yang saling bertentangan. Tim sales mungkin mengejar volume penjualan sebanyak mungkin, sedangkan finance berfokus pada pengendalian piutang. Tanpa koordinasi indikator, satu target dapat mendorong perilaku yang menyulitkan pencapaian target lainnya.
Penelitian mengenai Balanced Scorecard juga menemukan hubungan positif antara tingkat keselarasan tujuan strategis dan sistem pelaporan kinerja dengan kinerja organisasi.
Dengan demikian, penyusunan KPI perlu dimulai dari pertanyaan sederhana: “Apa yang ingin dicapai perusahaan, dan bagaimana setiap bagian organisasi berkontribusi terhadap pencapaian tersebut?”
1. Mulai dari Memahami Target Bisnis
Langkah pertama dalam menyusun KPI adalah memahami target bisnis secara menyeluruh. Jangan langsung menentukan indikator untuk setiap jabatan sebelum perusahaan mengetahui sasaran utama yang ingin dicapai.
Target bisnis dapat berupa peningkatan pendapatan, ekspansi pasar, peningkatan profitabilitas, efisiensi biaya, peningkatan kualitas produk, peningkatan kepuasan pelanggan, penguatan kompetensi karyawan, atau target strategis lainnya.
Setelah perusahaan menetapkan target utama, manajemen dapat mengidentifikasi hasil apa yang harus dicapai untuk mendukung target tersebut. Dari sini, perusahaan mulai memiliki dasar untuk menentukan indikator kinerja.
Misalnya, perusahaan memiliki target bisnis meningkatkan pendapatan sebesar 20% dalam satu tahun. Target tersebut kemudian perlu diterjemahkan menjadi beberapa sasaran pendukung, seperti meningkatkan jumlah pelanggan, meningkatkan nilai transaksi, meningkatkan repeat order, memperluas pasar, atau meningkatkan produktivitas tim sales.
Dengan pendekatan tersebut, KPI tidak muncul secara acak. Setiap indikator memiliki hubungan dengan target bisnis yang lebih besar.
Kaplan dan Norton menekankan bahwa tujuan dan ukuran dalam Balanced Scorecard seharusnya berasal dari strategi unit bisnis.
Contoh Penurunan Target Bisnis
Misalnya perusahaan memiliki target:
Target bisnis: meningkatkan pendapatan 20% dalam satu tahun.
Target tersebut dapat diterjemahkan menjadi:
- Meningkatkan jumlah pelanggan baru.
- Meningkatkan repeat order.
- Meningkatkan conversion rate.
- Meningkatkan nilai transaksi rata-rata.
- Memperluas wilayah pemasaran.
Setelah itu, perusahaan dapat menentukan departemen mana yang memiliki kontribusi langsung terhadap masing-masing sasaran.
Dengan cara tersebut, perusahaan dapat membangun hubungan antara strategi, target, KPI departemen, dan KPI individu.
2. Turunkan Target Bisnis ke Setiap Departemen
Setelah memahami target perusahaan, langkah berikutnya adalah melakukan cascading KPI. Cascading berarti menerjemahkan sasaran tingkat organisasi menjadi sasaran yang lebih spesifik pada unit bisnis, departemen, tim, hingga individu.
Balanced Scorecard Institute menjelaskan bahwa cascading dapat menghubungkan scorecard organisasi dengan unit bisnis, departemen, tim, dan individu sehingga terdapat hubungan yang lebih jelas antara pekerjaan sehari-hari dan sasaran strategis.
Sebagai contoh, perusahaan memiliki target meningkatkan kepuasan pelanggan.
Departemen customer service dapat memiliki target meningkatkan kecepatan respons dan penyelesaian keluhan. Departemen product development dapat memiliki target mengurangi masalah produk yang paling sering dikeluhkan pelanggan. Departemen logistics dapat memiliki target meningkatkan ketepatan pengiriman.
Setiap departemen memiliki KPI berbeda, tetapi seluruhnya berkontribusi pada target yang sama.
Mengapa Cascading KPI Penting?
Cascading membantu karyawan memahami hubungan antara pekerjaan mereka dengan strategi perusahaan. Karyawan tidak hanya mengetahui target pribadi, tetapi juga memahami alasan di balik target tersebut.
Pendekatan ini dapat menciptakan line of sight, yaitu hubungan yang lebih jelas antara pekerjaan individu dan hasil strategis organisasi.
Namun, perusahaan perlu menghindari kesalahan ketika melakukan cascading. KPI level individu tidak harus menjadi salinan langsung KPI perusahaan. Perusahaan perlu menerjemahkan sasaran tersebut sesuai dengan tanggung jawab dan ruang kendali masing-masing posisi.
3. Pilih KPI yang Benar-Benar Berpengaruh terhadap Bisnis
Tidak semua angka layak menjadi KPI. Perusahaan dapat mengukur ratusan data setiap hari, tetapi hanya sebagian yang benar-benar penting untuk pengambilan keputusan strategis.
Karena itu, perusahaan perlu memilih indikator yang memiliki hubungan kuat dengan hasil bisnis. Fokus utama bukan pada jumlah KPI, tetapi pada kualitas dan relevansinya.
Misalnya, tim digital marketing dapat menghasilkan ribuan impressions setiap bulan. Angka tersebut memang menunjukkan jangkauan kampanye, tetapi perusahaan juga perlu melihat apakah aktivitas tersebut menghasilkan leads, conversion, atau revenue sesuai tujuan bisnis.
Perusahaan dapat membedakan KPI menjadi beberapa jenis, seperti lagging indicator dan leading indicator. Lagging indicator menunjukkan hasil yang sudah terjadi, sedangkan leading indicator memberikan sinyal mengenai faktor yang dapat memengaruhi hasil di masa depan.
Contohnya, revenue dapat menjadi lagging indicator, sedangkan jumlah qualified leads dapat menjadi leading indicator bagi aktivitas penjualan.
Balanced Scorecard menekankan pentingnya menghubungkan ukuran hasil dengan performance drivers atau faktor yang mendorong hasil tersebut.
Gunakan Pertanyaan Penyaring KPI
Sebelum memasukkan sebuah indikator ke dalam KPI, perusahaan dapat mengajukan beberapa pertanyaan:
- Apakah indikator ini berkaitan dengan target bisnis?
- Apakah karyawan atau departemen dapat memengaruhi hasilnya?
- Apakah data indikator tersedia dan dapat dipercaya?
- Apakah indikator ini membantu manajemen mengambil keputusan?
- Apakah indikator ini benar-benar menggambarkan hasil yang penting?
Jika sebagian besar jawabannya “tidak”, perusahaan perlu mempertimbangkan kembali penggunaan indikator tersebut.
4. Buat KPI dengan Prinsip SMART
Setelah menentukan indikator yang relevan, perusahaan perlu membuat target yang jelas. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah prinsip SMART, yaitu Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound.
CIPD menjelaskan bahwa tujuan kinerja yang efektif sebaiknya berfokus pada outcome yang spesifik dan menantang, serta sering kali menggunakan karakteristik SMART.
Specific berarti target memiliki arah yang jelas. Measurable berarti perusahaan dapat mengukur pencapaiannya. Achievable berarti target mempertimbangkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Relevant memastikan target memiliki hubungan dengan pekerjaan dan strategi. Time-bound memberikan batas waktu yang jelas.
Contohnya, target “meningkatkan penjualan” masih terlalu umum.
Perusahaan dapat mengubahnya menjadi:
“Meningkatkan nilai penjualan produk A sebesar 15% pada akhir tahun dibandingkan periode pembanding yang telah ditentukan.”
Target tersebut memberikan informasi mengenai apa yang harus ditingkatkan, berapa besar targetnya, dan kapan pencapaiannya harus terjadi.
Namun, perusahaan tetap perlu menyesuaikan pendekatan SMART dengan karakter pekerjaan. CIPD mencatat bahwa pekerjaan yang kompleks atau sangat bergantung pada kolaborasi terkadang membutuhkan tujuan pembelajaran, perilaku, atau tujuan tim selain target individual yang kaku.
5. Tentukan Target Berdasarkan Data dan Kapasitas Bisnis
KPI yang selaras dengan bisnis membutuhkan target yang memiliki dasar. Perusahaan sebaiknya tidak menentukan angka hanya berdasarkan keinginan manajemen.
Data historis dapat membantu perusahaan memahami kondisi aktual. Misalnya, perusahaan mencatat rata-rata conversion rate sebesar 8% dalam satu tahun terakhir. Manajemen kemudian ingin meningkatkan conversion rate menjadi 10% setelah mempertimbangkan perubahan strategi, kualitas leads, teknologi, dan kemampuan tim.
Pendekatan tersebut lebih kuat dibandingkan langsung menetapkan target 20% tanpa analisis.
Perusahaan juga perlu mempertimbangkan sumber daya yang tersedia. Jika manajemen menaikkan target penjualan secara signifikan, perusahaan perlu melihat apakah jumlah sales, anggaran pemasaran, kapasitas produksi, stok, dan dukungan customer service mampu mendukung target tersebut.
Target yang realistis bukan berarti target yang mudah. Target tetap dapat memberikan tantangan, tetapi perusahaan perlu memiliki alasan yang masuk akal mengapa target tersebut dapat dicapai.
Gunakan Baseline
Baseline menunjukkan posisi awal sebelum perusahaan menetapkan target baru.
Contohnya:
Baseline: rata-rata waktu penyelesaian layanan 5 hari.
Target: menurunkan waktu penyelesaian menjadi 3 hari.
Periode: enam bulan.
Dengan struktur tersebut, perusahaan dapat mengetahui seberapa besar perubahan yang ingin dicapai dan mengukur progres secara berkala.
6. Seimbangkan KPI Keuangan dan Nonkeuangan
Salah satu kesalahan umum dalam penyusunan KPI adalah terlalu fokus pada indikator keuangan. Padahal, hasil keuangan sering kali muncul dari berbagai faktor lain seperti pelanggan, proses internal, teknologi, dan kompetensi karyawan.
Balanced Scorecard dikembangkan untuk memperluas pengukuran kinerja dengan perspektif finansial, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.
Perusahaan dapat menggunakan pendekatan tersebut sebagai referensi ketika menyusun KPI.
Perspektif Finansial
Indikator dapat mencakup:
- Pertumbuhan pendapatan.
- Profit margin.
- Pengendalian biaya.
- Cash flow.
- Revenue per customer.
Perspektif Pelanggan
Indikator dapat mencakup:
- Customer satisfaction.
- Customer retention.
- Customer complaints.
- Net Promoter Score.
- Repeat purchase.
Perspektif Proses Internal
Indikator dapat mencakup:
- Cycle time.
- Error rate.
- Produktivitas.
- Ketepatan proses.
- Tingkat defect.
Perspektif Learning and Growth
Indikator dapat mencakup:
- Kompetensi karyawan.
- Training completion.
- Employee engagement.
- Pengembangan kemampuan digital.
- Internal promotion rate.
Tidak semua perusahaan harus menggunakan semua indikator tersebut. Perusahaan perlu memilih indikator sesuai strategi dan karakter bisnis.
Tujuan utama pendekatan ini adalah menjaga agar perusahaan tidak mengejar hasil finansial dengan mengorbankan faktor yang mendukung keberlanjutan bisnis.
7. Lakukan Review dan Evaluasi KPI Secara Berkala
KPI bukan dokumen yang perusahaan buat sekali lalu dibiarkan sepanjang tahun. Kondisi bisnis dapat berubah, sehingga perusahaan perlu melakukan review secara berkala.
Perubahan strategi, kondisi pasar, perilaku pelanggan, teknologi, regulasi, maupun struktur organisasi dapat membuat KPI tertentu menjadi kurang relevan.
CIPD menjelaskan bahwa performance management merupakan proses yang berkelanjutan. Perusahaan perlu menggunakan objective setting, monitoring, feedback, dan evaluasi sebagai bagian dari proses tersebut.
Review KPI dapat dilakukan secara bulanan, kuartalan, semesteran, atau sesuai karakter bisnis.
Dalam proses review, perusahaan dapat membahas:
- Apakah target tercapai?
- Seberapa besar gap antara target dan realisasi?
- Apa faktor yang menyebabkan gap?
- Apakah indikator masih relevan?
- Apakah target terlalu tinggi atau terlalu rendah?
- Apakah terdapat kendala sumber daya?
- Apa tindakan perbaikan yang perlu dilakukan?
Dengan demikian, KPI menjadi alat manajemen yang aktif, bukan hanya dokumen administrasi.
Contoh KPI yang Selaras dengan Target Bisnis
Untuk memahami hubungan antara target bisnis dan KPI, berikut contoh sederhana pada sebuah perusahaan yang ingin meningkatkan pertumbuhan penjualan.
| Target Bisnis | Sasaran Departemen | Contoh KPI |
| Meningkatkan revenue | Meningkatkan penjualan | Pertumbuhan penjualan |
| Meningkatkan pelanggan baru | Memperluas akuisisi | Jumlah qualified leads |
| Meningkatkan conversion | Meningkatkan efektivitas sales | Conversion rate |
| Meningkatkan retensi | Meningkatkan pengalaman pelanggan | Customer retention rate |
| Meningkatkan efisiensi | Memperbaiki proses operasional | Cost per transaction |
| Meningkatkan kualitas | Mengurangi kesalahan | Error rate |
| Meningkatkan kompetensi | Mengembangkan kemampuan karyawan | Persentase pencapaian program kompetensi |
Tabel tersebut menunjukkan bahwa satu target bisnis dapat memiliki beberapa sasaran pendukung. Perusahaan perlu memastikan hubungan antara sasaran tersebut tetap logis dan tidak saling bertentangan.
Contoh Cascading KPI dari Tingkat Perusahaan hingga Individu
Misalnya sebuah perusahaan memiliki target:
Meningkatkan revenue sebesar 20% dalam satu tahun.
Target tersebut dapat diturunkan menjadi beberapa sasaran.
Tingkat perusahaan: meningkatkan revenue 20%.
Tingkat sales: meningkatkan nilai penjualan 20%.
Tingkat marketing: meningkatkan jumlah qualified leads sebesar 25%.
Tingkat customer service: meningkatkan customer retention sesuai target yang telah ditetapkan.
Tingkat individu sales: mencapai target penjualan sesuai territory atau portofolio pelanggan masing-masing.
Dengan struktur tersebut, setiap posisi memiliki KPI yang berbeda tetapi tetap memiliki hubungan dengan tujuan perusahaan.
Balanced Scorecard Institute menjelaskan bahwa cascading dapat menerjemahkan scorecard organisasi ke level unit bisnis, departemen, tim, dan individu sehingga akuntabilitas mengikuti tujuan dan ukuran yang telah ditetapkan.
Perbedaan KPI yang Selaras dan Tidak Selaras dengan Bisnis
Perbedaan antara KPI yang selaras dan tidak selaras dapat terlihat dari hubungan indikator dengan tujuan organisasi.
| KPI Tidak Selaras | KPI Lebih Selaras |
| Jumlah aktivitas tanpa melihat hasil | Indikator yang mengukur hasil penting |
| Target dibuat tanpa baseline | Target menggunakan data sebagai dasar |
| Setiap departemen mengejar indikator sendiri | KPI antarbagian mendukung tujuan yang sama |
| Fokus hanya pada hasil jangka pendek | Memperhatikan hasil dan faktor pendorong |
| Tidak ada hubungan dengan strategi | Terhubung dengan sasaran bisnis |
| Tidak pernah diperbarui | Direview sesuai perubahan strategi |
KPI yang selaras membantu perusahaan menciptakan hubungan yang lebih jelas antara strategi dan aktivitas operasional. Sebaliknya, KPI yang tidak selaras dapat membuat sistem pengukuran hanya menjadi rutinitas administratif.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyusun KPI
Selain memahami cara menyusun KPI, perusahaan juga perlu mengenali kesalahan yang sering terjadi.
Terlalu Banyak KPI
Perusahaan tidak perlu mengukur segala sesuatu. Terlalu banyak indikator dapat membuat karyawan kehilangan fokus dan menyulitkan manajemen menentukan prioritas.
Hanya Mengukur Aktivitas
Jumlah aktivitas tidak selalu sama dengan hasil. Contohnya, jumlah telepon sales tidak otomatis menunjukkan keberhasilan penjualan.
KPI Tidak Berada dalam Kendali Pemiliknya
Perusahaan sebaiknya tidak memberikan tanggung jawab penuh atas indikator yang sangat dipengaruhi faktor di luar kendali karyawan atau departemen.
Mengabaikan Kualitas
Karyawan dapat mengejar angka jika perusahaan hanya mengukur kuantitas. Karena itu, perusahaan perlu memasukkan indikator kualitas ketika aspek tersebut penting bagi bisnis.
Tidak Menghubungkan KPI Antarbagian
KPI departemen perlu mendukung arah organisasi. Perusahaan perlu melihat kemungkinan konflik antarindikator sebelum menetapkan target.
Tidak Melakukan Review
Strategi dapat berubah. KPI yang relevan pada awal periode belum tentu tetap relevan beberapa bulan kemudian.
Bagaimana Memastikan KPI Tetap Fokus pada Target Bisnis?
Perusahaan dapat membuat KPI alignment matrix untuk melihat hubungan antara strategi dan indikator.
Contoh sederhananya:
| Sasaran Strategis | KPI Perusahaan | KPI Departemen | KPI Individu |
| Meningkatkan revenue | Revenue growth | Sales growth | Individual sales target |
| Meningkatkan retensi | Retention rate | Customer retention | Follow-up completion |
| Meningkatkan efisiensi | Operating cost ratio | Department cost | Cost-saving initiative |
| Meningkatkan kualitas | Defect rate | Process error rate | Individual quality score |
Matriks seperti ini membantu manajemen melihat apakah setiap KPI memiliki hubungan yang masuk akal dengan strategi.
Perusahaan juga dapat menggunakan strategy map untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat antara sasaran. Kaplan dan Norton menjelaskan bahwa scorecard yang efektif bukan sekadar kumpulan ukuran, tetapi memiliki hubungan antara outcome dan performance drivers.
Peran Manajemen dalam Menjaga Keselarasan KPI
Sistem KPI tidak akan efektif hanya karena perusahaan memiliki dashboard atau software pengukuran. Manajemen tetap memiliki peran penting dalam menjelaskan prioritas, menetapkan target, memberikan feedback, dan melakukan evaluasi.
Manajer juga perlu memastikan karyawan memahami alasan di balik KPI. Karyawan yang hanya menerima angka tanpa memahami konteks bisnis dapat melihat KPI sebagai tuntutan administratif.
Sebaliknya, ketika manajemen menjelaskan hubungan antara KPI dan strategi, karyawan dapat memahami kontribusi pekerjaannya terhadap organisasi.
Perusahaan juga perlu membuka ruang diskusi ketika karyawan menghadapi hambatan. Jika pencapaian KPI menurun karena masalah sistem, proses, kapasitas, atau perubahan kondisi pasar, manajemen perlu menganalisis penyebabnya sebelum mengambil keputusan.
KPI Bukan Sekadar Alat Penilaian Karyawan
KPI sering dianggap hanya sebagai instrumen untuk memberikan nilai pada karyawan. Padahal, fungsi KPI dapat jauh lebih luas.
KPI dapat membantu manajemen:
- Memantau implementasi strategi.
- Menentukan prioritas.
- Mengidentifikasi gap kinerja.
- Mengalokasikan sumber daya.
- Menentukan kebutuhan pengembangan.
- Mengevaluasi efektivitas proses.
- Mengambil keputusan berbasis data.
- Meningkatkan akuntabilitas.
CIPD juga menjelaskan bahwa objective setting merupakan bagian penting dalam performance management dan tujuan kinerja dapat membantu meningkatkan kinerja ketika perusahaan menyusun serta mengelolanya dengan tepat.
Karena itu, perusahaan perlu melihat KPI sebagai bagian dari sistem manajemen, bukan hanya sebagai angka yang muncul pada akhir periode.
Kesimpulan
Menyusun Key Performance Indicator yang selaras dengan target bisnis membutuhkan pendekatan yang strategis. Perusahaan perlu memastikan setiap indikator memiliki hubungan yang jelas dengan sasaran organisasi dan benar-benar membantu mengukur hasil yang penting.
Tujuh cara utama yang dapat diterapkan adalah memahami target bisnis, menurunkan target ke setiap departemen, memilih KPI yang berpengaruh terhadap bisnis, menggunakan prinsip SMART, menetapkan target berdasarkan data dan kapasitas, menyeimbangkan indikator keuangan dan nonkeuangan, serta melakukan review KPI secara berkala.
KPI yang baik tidak harus berjumlah banyak. Justru, indikator yang lebih fokus dan memiliki hubungan kuat dengan strategi dapat memberikan informasi yang lebih berguna bagi manajemen.
Perusahaan juga perlu menghindari KPI yang hanya mengukur aktivitas, target yang tidak realistis, indikator yang tidak berada dalam kendali pemiliknya, serta ukuran yang tidak memiliki hubungan dengan strategi. KPI harus membantu organisasi memahami apakah perusahaan bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan.
Pada akhirnya, KPI yang selaras dengan target bisnis menciptakan hubungan antara strategi, departemen, tim, dan individu. Ketika hubungan tersebut jelas, karyawan dapat memahami prioritas pekerjaannya, manajer dapat memantau pencapaian dengan lebih terarah, dan perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengevaluasi pelaksanaan strategi.
Referensi
- Kaplan, Robert S. dan Norton, David P. The Balanced Scorecard—Measures That Drive Performance. Harvard Business Review, 1992.
- Kaplan, Robert S. dan Norton, David P. Putting the Balanced Scorecard to Work. Harvard Business Review, 1993.
- Kaplan, Robert S. dan Norton, David P. Linking the Balanced Scorecard to Strategy. California Management Review, 1996.
- Kaplan, Robert S. dan Norton, David P. The Balanced Scorecard: Translating Strategy into Action. Harvard Business School Press, 1996.
- Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD). Performance Management Factsheet. 2026.
- Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD). Performance Management: An Introduction. 2026.
- Balanced Scorecard Institute. Balanced Scorecard Basics.
- Balanced Scorecard Institute. The Four Perspectives of the Balanced Scorecard.
- Iselin, Errol R., Mia, Lokman, dan Sands, John. The Effects of the Balanced Scorecard on Performance: The Impact of the Alignment of the Strategic Goals and Performance Reporting. Accounting and Finance, 2008.
- Doran, George T. There’s a S.M.A.R.T. Way to Write Management’s Goals and Objectives. Management Review, 1981.